Rabu, 03 Juni 2015

[060] Al Mumtahanah Ayat 004


««•»»
Surah Al Mumtahanah 4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
««•»»
qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima waalladziina ma'ahu idz qaaluu liqawmihim innaa buraaau minkum wamimmaa ta'buduuna min duuni allaahi kafarnaa bikum wabadaa baynanaa wabaynakumu al'adaawatu waalbaghdaau abadan hattaa tu/minuu biallaahi wahdahu illaa qawla ibraahiima li-abiihi la-astaghfiranna laka wamaa amliku laka mina allaahi min syay-in rabbanaa 'alayka tawakkalnaa wa-ilayka anabnaa wa-ilayka almashiiru
««•»»
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya {1471}: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."
{1471} Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (Lihat surat An Nisa ayat 48).
««•»»
There is certainly a good exemplar for you in Abraham and those who were with him, when they said to their own people, ‘Indeed we repudiate you and whatever you worship besides Allah. We disavow you, and between you and us there has appeared enmity and hate for ever, unless you come to have faith in Allah alone,’ except for Abraham’s saying to his father, ‘I will surely plead forgiveness for you, though I cannot avail you anything against Allah.’ ‘Our Lord! In You do we put our trust, and to You do we turn penitently, and toward You is the destination.
««•»»

Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin mencontoh Nabi Ibrahim A.S. dan orang-orang yang beriman besertanya, ketika ia berkata kepada kaumnya yang kafir kepada Allah dan menyembah berhala: "Hai kaumku, sesungguhnya kami berlepas diri daripada, dan dari apa yang kamu sembah selain Allah".

Kemudian diterangkan bahwa yang dimaksud Ibrahim dengan berlepas diri itu, yaitu:

Pertama
Ibrahim A.S. mengingkari kaumnya, tidak mengacuhkan tuhan-tuhan mereka dan tidak membenarkan perbuatan mereka yang menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepada siapa pun, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:

ياأيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له إن الذين تدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستنقذوه منه ضعف الطالب والمطلوب
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amal lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah".
(QS Al Hajj [22]:73)

Ke·dua
Ibrahim A.S. mengatakan bahwa antaranya dan kaumnya yang ingkar itu telah terjadi permusuhan dan saling benci-membenci selama-lamanya. Ibrahim menyatakan akan tetap menantang kaumnya itu sampai mereka meninggalkan perbuatan syirik itu. Jika mereka telah beriman barulah hilang permusuhan itu.

Terhadap ayahnya yang masih kafir ia tidak mengambil sikap yang tegas seperti sikapnya terhadap kaumnya. Ia berjanji akan mendoakan kepada Allah agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa ayahnya itu. Dalam hal ini Allah SWT melarang kaum muslimin mencontoh Ibrahim, sekalipun Ibrahim akhirnya berlepas diri pula terhadap ayahnya, setelah nyata bagi beliau keingkaran bapaknya itu.

Benar ada di antara orang-orang yang beriman mendoakan ayah-ayah mereka yang meninggal dalam keadaan musyrik. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim itu.

Maka Allah SWT membantah perbuatan mereka itu dengan menurunkan ayat:
ما كان للنبي والذين ءامنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(QS At Taubah [9]:113-114)

Selanjutnya Ibrahim A.S berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku aku tidak mempunyai kesanggupan sedikit pun menolong engkau, selain berdoa kepada Allah agar engkau diberi-Nya taufik, sehingga engkau beriman. Tidaklah aku sanggup melakukan lebih dari itu. Jika Allah SWT berkehendak mengazab karena kekafiran engkau itu tidaklah aku sanggup melepaskan engkau dari azab itu.

Sebelum Ibrahim A.S. berpisah dengan kaumnya yang tidak mau menerima seruannya itu, ia berdoa kepada Allah dengan hati yang tunduk dan menyerah diri kepada-Nya, "Wahai Tuhan kami, kami telah berusaha melaksanakan tugas yang Engkau bebankan kepada kami, tetapi kaumku bertambah ingkar kepadaku, karena itu segala sesuatu yang berhubungan dengan tugasku itu aku serahkan kepada Engkau memberikan penilaiannya, hanya kepada Engkaulah kembali kami dan kepada Engkau kami bertobat dengan sebenar-benarnya tobat Pada hari Engkau membangkitkan kami dari kubur, kemudian Engkau kumpulkan kami untuk berhisab, hanya kepada Engkaulah waktu itu kami mohon pertolongan, karena kepada Engkaulah kembali semua makhluk.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya telah ada suri teladan bagi kalian) lafal uswatun dapat pula dibaca iswatun, artinya teladan atau panutan (yang baik pada Ibrahim) yakni pada diri Nabi Ibrahim, baik perkataan maupun perbuatannya (dan pada orang-orang yang bersama dia) dari kalangan orang-orang yang beriman (ketika mereka berkata kepada kaum mereka, "Sesungguhnya kami berlepas diri) lafal bura-aa-u adalah bentuk jamak dari lafal barii`un, wazannya sama dengan lafal zharifun yang jamaknya zhurafaa`u (dari kalian apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar kepada kekafiran kalian) kami membenci kekafiran kalian (dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya) lafal wal baghdhaa`u abadan dapat dibaca secara tahqiq dan dapat pula dibaca secara tashil, yakni mengganti huruf hamzah yang kedua menjadi wau (sampai kalian beriman kepada Allah semata." Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu) perkataan ini merupakan perkataan yang dikecualikan daripada pengertian suri teladan tadi. Maka sekali-kali kalian tidak boleh mengucapkan kata penyesalan seperti itu, seumpamanya kalian memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.
Dan juga perkataan Nabi Ibrahim berikut ini (dan aku tiada dapat melindungimu dari Allah) dari siksaan dan pahala-Nya (barang sedikit pun.") Nabi Ibrahim mengungkapkan kata-kata ini sebagai kiasan, bahwasanya dia tidak memiliki buatnya selain dari memohonkan ampun. Perkataan ini pun termasuk di antara hal yang dikecualikan untuk tidak boleh diikuti, karena sekalipun pengertian lahiriahnya sebagai ungkapan penyesalan, akan tetapi maksudnya berkaitan dengan pengertian kalimat yang pertama. Pengertian lahiriah kalimat yang kedua ini sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Allah swt., " Katakanlah! `Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kamu.`"
(QS. Al Fath [48]:11)
Permohonan ampun Nabi Ibrahim buat bapaknya ini sebelum jelas bagi Nabi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah benar-benar musuh Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam surah Al-Bara`ah atau surah At-Taubah. ("Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.") Kalimat ini termasuk doa yang selalu diucapkan oleh Al-Khalil atau Nabi Ibrahim dan orang-orang beriman yang bersamanya; yakni, mereka mengucapkan kata-kata tersebut.

««•»»
Verily there is for you a good example (read iswa or uswa in both instances, meaning qudwa) in [the person of] Abraham, in terms of [his] sayings and deeds, and those who were with him, of believers, when they said to their people, ‘We are indeed innocent of you (bura’ā’ is the plural of barī’, similar [in form] to zarīf, ‘charming’) and of what you worship besides God.
We repudiate you, we disavow you, and between us and you there has arisen enmity and hate forever (wa’l-baghdā’u abadan: pronounce both hamzas fully, or replace the second one with a wāw) until you [come to] believe in God alone’, except for Abraham’s saying to his father, ‘I shall ask forgiveness for you — [this statement is] excepted from ‘a [good] example’, so it is not [right] for you to follow his example in this [respect] by asking forgiveness for disbelievers.
As for his saying: but I cannot avail you anything against God’ — that is, either against His chastisement or [to secure for you of] His reward — he [Abraham] is using it to intimate [to his father] that he can do nothing for him other than to ask forgiveness [for him], which [saying] is itself based on that [former statement] albeit excepted [from it] in terms of what is meant by it, even if on the face of it, it would seem to be [semantically] part of the [good] example to be followed: Say, ‘Who can avail you anything against God’
[Q. 48:11]
His [Abraham’s] plea of forgiveness for him was before it became evident to him that he [his father] was an enemy of God, as mentioned in sūrat Barā’a
[Q. 9:114]
‘Our Lord, in You we put our trust, and to You we turn [penitently], and to You is the journeying: these are the words of the Friend [of God, Abraham] and those who were with him, in other words, they were saying:
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of13
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=60&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#60:4

[060] Al Mumtahanah Ayat 003


««•»»
Surah Al Mumtahanah 3

لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
««•»»
lan tanfa'akum arhaamukum walaa awlaadukum yawma alqiyaamati yafshilu baynakum waallaahu bimaa ta'maluuna bashiirun
««•»»
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
««•»»
Your relatives and your children will not avail you on the Day of Resurrection: He will separate you [from one another], and Allah sees best what you do.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa pada Hari Kiamat setiap orang mempertanggungjawabkan diri mereka masing-masing kepada Allah. Karib-kerabat, teman setia, anak-anak atau orang tua sekalipun tidak dapat menolong seseorang di Hari Kiamat sedikit pun. Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia.

Kemudian Allah SWT menerangkan sebab karib-kerabat, teman Setia, anak-anak dan orang tua tidak dapat dijadikan penolong di Hari Kiamat sebelum selesai hisab, tiap-tiap kamu berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang akan menimpa, sehingga tidak sempat memikirkan kerabat dan temannya itu.

sebagaimana firman Allah SWT:
فإذا جاءت الصاخة يوم يفر المرء من أخيه وأمه وأبيه وصاحبته وبنيه لكل امرئ منهم يومئذ شأن يغنيه
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya dari ibu dan bapaknya dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
(QS 'Abasa [80]:33-37)

Pada akhir ayat ini Allah SWT memberi peringatan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya, karena itu Dia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya. Maka itu berhati-hatilah dan jagalah dirimu sebaik mungkin.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Tidak akan bermanfaat bagi kalian karib kerabat kalian) famili-famili kalian (dan anak-anak kalian) yang musyrik, karena kalian memberitahukan berita-berita Nabi secara rahasia kepada mereka; mereka semuanya sekali-kali tiada bermanfaat bagi diri kalian untuk menolak azab di hari akhirat (pada hari kiamat Dia akan memisahkan) dapat dibaca yafshilu dan yufshalu (antara kalian) dan antara mereka; karena kalian berada di dalam surga, sedangkan mereka bersama-sama dengan orang-orang kafir di dalam neraka. (Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan).
««•»»
Your relatives and your children, the idolatrous [ones], for whose sake you secretly communicated the news, will not avail you, against the chastisement in the Hereafter. On the Day of Resurrection you will be separated (passive yufsalu; or read active yafsilu, ‘He will separate you’) from them, so that you will be in Paradise, while they will be alongside the disbelievers in the Fire. And God is Seer of what you do.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of13
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=60&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#60:3

[060] Al Mumtahanah Ayat 002


««•»»
Surah Al Mumtahanah 2

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ
««•»»
in yatsqafuukum yakuunuu lakam a'daa-an wayabsuthuu ilaykum aydiyahum wa-alsinatahum bialssuu-i wawadduu law
««•»»
Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.
««•»»
If they were to confront you they would be your enemies, and would stretch out against you their hands and their tongues with evil [intentions], and they are eager that you should be faithless.
««•»»

Dalam ayat ini diterangkan sebab-sebab yang lain, sehingga Allah SWT melarang kaum muslimin berteman akrab dan bertolong-tolongan dengan orang-orang kafir, tu:
  1. Jika suatu waktu mereka menangkapmu atau mengalahkan kamu, pastilah mereka akan melakukan sesuatu yang tidak kamu kirakan kezalimannya. Mereka berteman . dengan kamu sekalian semata-mata mencari keuntungan bagi diri dan sokongan mereka. Bila tidak ada keuntungan yang diharapkan darimu, mereka akan menjauhkan diri darimu bahkan akan menghancurkan kamu.
  2. Mereka selalu berusaha menjelek-jelekkan dan memusuhi kamu. Bagaimana mungkin kamu membukakan rahasia-rahasia kepada mereka atau berteman erat dengan mereka. Orang yang dapat dijadikan teman itu hanyalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita, bukan orang yang menginginkan kesengsaraan untuk kita.
  3. Mereka mengharapkan kamu mengingkari kebenaran dan kafir kepada Allah, sehingga, keadaan mereka seperti kamu pula, yaitu sama-sama kafir. Karena itu mereka hanya mau berteman erat atau bertolong-tolongan dengan mereka selama kamu mungkin memenuhi keinginan-keinginan mereka.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Jika mereka menangkap kalian) yakni berhasil menahan kalian (niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan mereka kepada kalian) maksudnya membunuh dan memukuli kalian (dan lisan mereka mengeluarkan kata-kata yang kotor) yakni mencaci maki kalian (dan mereka ingin) mengharapkan (supaya kalian kafir kembali).
««•»»
If they were to prevail over you, they would be your enemies, and would stretch out against you their hands, to kill and assault you, and their tongues with evil [intent], with insults and reviling; and they long for you to disbelieve.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of13
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=60&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#60:2

[060] Al Mumtahanah Ayat 001


««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.

««•»»

Surah Al Mumtahanah 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
««•»»
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tattakhidzuu 'aduwwii wa'aduwwakum awliyaa-a tulquuna ilayhim bialmawaddati waqad kafaruu bimaa jaa-akum mina alhaqqi yukhrijuuna alrrasuula wa-iyyaakum an tu/minuu biallaahi rabbikum in kuntum kharajtum jihaadan fii sabiilii waibtighaa-a mardaatii tusirruuna ilayhim bialmawaddati wa-anaa a'lamu bimaa akhfaytum wamaa a'lantum waman yaf'alhu minkum faqad dhalla sawaa-a alssabiili
««•»»
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
««•»»
O you who have faith! Do not take My enemy and your enemy for friends, [secretly] offering them affection (for they have certainly defied whatever has come to you of the truth, expelling the Apostle and you, because you have faith in Allah, your Lord) if you have set out for jihād in My way and to seek My pleasure. You secretly nourish affection for them, while I know well whatever you hide and whatever you disclose, and whoever among you does that has certainly strayed from the right way.
««•»»

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Imam-imam yang lain bahwa telah datang ke Madinah dari Mekah seorang wanita bernama Sarrah untuk suatu keperluan. Waktu itu orang-orang musyrik Mekah baru saja melanggar perjanjian Hudaibiyah, suatu perjanjian damai yang dibuat mereka dengan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sedang mempertimbangkan suatu batas waktu tertentu, sebagai masa berpikir bagi orang-orang musyrik Mekah. Rasulullah bermaksud, jika batas waktu yang ditentukan habis dan orang-orang musyrik tetap pada sikap mereka semula, maka Rasulullah bermaksud menyerbu kota Mekah.

Sarrah disuruh tinggal oleh Rasulullah bersama keluarga Bani Abdul Mutalib, dan mengharapkan agar Bani Muttalib memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi Sarrah. Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, maka Sarrah bermaksud kembali ke Mekah. Maka Hatib bin Abi Balta'ah seorang sahabat Rasulullah yang ikut perang Badar menemui Sarrah mengirimkan sepucuk surat kepada keluarganya yang masih tinggal di Mekah, dengan memberikan kepada Sarah sepuluh dinar sebagai tanda terima kasihnya kepada Sarrah. Dalam surat itu Hatib menerangkan kepada keluarganya bahwa Rasulullah akan mengambil tindakan kepada orang Musyrik Mekah, setelah habis masa yang ditentukan itu.

Kejadian itu disampaikan Jibril kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyuruh Ali bin Abi Talib, `Ammar, Talhah, Az Zubair, Al Miqdad dan Aba Marsid menyusul Sarrah dan mengambil darinya surat yang dikirimkan Hatib itu. Semua sahabat yang disuruh Rasulullah itu adalah dari pasukan berkuda. Nabi berkata kepada mereka: "Segeralah pergi ke Khakh (suatu lembah yang terletak antara Mekah dan Madinah) di sana ada seorang perempuan dalam usungan. Dia membawa surat untuk penduduk Mekah. Maka ambillah surat itu dari padanya, dan biarkan dia itu pergi ke Mekah.

Maka para sahabat itu memacu kudanya hingga sampai ke tempat wanita itu dan meminta suratnye. Mula-mula wanita itu enggan memberikannya. Setelah didesak dengan keras, barulah ia memberikan surat itu yang dikeluarkan dari sanggulnya Setelah para sahabat kembali, maka Hatib dipanggil Rasulullah dan menanyakan sebab ia menulis surat itu. Hatib menerangkan bahwa ia bermaksud untuk melindungi keluarganya yang ada di Mekah, seandainya kaum muslimin memasuki kota Mekah nanti. bukan bermaksud untuk membukakan rahasia itu kepada kaum musyrikin. Rasulullah SAW. dapat membenarkan alasan Haub itu, tetapi Umar bin Khattab berkata: "Ya Rasulullah, serahkanlah orang munafik itu agar aku pancung lehernya". Rasulullah berkata: "Hatib adalah sahabat yang ikut perang Badar". Maka turunlah ayat ini.

Ayat ini memperingatkan kaum muslimin agar mereka tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan orang-orang musyrikin yang menjadi musuh Allah dan musuh muslimin. Karena dengan adanya hubungan yang demikian itu dengan tidak sadar, mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum muslimin menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah SAW. kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah. Janganlah sekali-kali dilakukan yang demikian itu sekalipun mereka kaum kerabatmu.

Menjadikan oarng-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang, tidak mungkin dilakukan selama orang-orang kafir itu berkeinginan untuk menghancurkan agama Islam dan kaum muslimin. Karena itu dilarang kaum muslimin bertolong-tolongan dengan orang kafir yang seperti itu.

Kemudian diterangkan sebab Allah melarang untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu:

  1. Karena mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada Alquran. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan sebagai penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasiamu. yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin ?
  2. Mereka, orang-orang kafir itu telah mengusir Rasulullah dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka, karena beriman kepada Allah bukan karena sebab yang lain.
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah SWT:
وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
(QS Al Buruj [85]:8)

Dan firman Allah SWT:
الذين أخرجوا من ديارهم بغير حق إلا أن يقولوا ربنا الله
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tenpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah".
(QS Al Hajj [22]:40)

Allah memperingatkan kaum muslimin bahwa jika kamu keluar dari negerimu atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolongmu. Cukuplah kaum muslim menderita dengan tindakan-tindakan mereka itu, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada orang-orang kafir menambah penderitaan kaum muslimin.

Bagaimana mungkin ada di antara kaum muslimin melakukan seperti yang dilakukan Hatib menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir, kenapa bertolong-tolongan dengan mereka?

Allah SWT Maha Mengetahui segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya, karena itu Dia menyampaikan hal itu kepada Rasul-Nya, sehingga Rasulullah segera dapat mengambil tindakan, sehingga kaum muslimin tidak dirugikan.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka sebagai penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus yang telah dibentangkan Allah, yang menyampaikan mereka ke dalam surga, tempat yang penuh kenikmatan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian) yakni orang-orang kafir Mekah (menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan) kalian beritakan (kepada mereka) tujuan Nabi saw. yang akan memerangi mereka; Nabi memerintahkan kepada kalian supaya merahasiakannya yaitu sewaktu perang Hunain (karena rasa kasih sayang) di antara kalian dan mereka.

Sehubungan dengan peristiwa ini Hathib bin Abu Balta`ah mengirimkan sepucuk surat kepada orang-orang musyrik, karena Hathib mempunyai beberapa orang anak dan sanak famili yang musyrik. Akan tetapi Nabi saw. dapat mengambil surah itu dari tangan orang yang diutus olehnya, berkat pemberitahuan dari Allah kepada Nabi saw. melalui wahyu-Nya.
Lalu alasan dan permintaan maaf Hathib diterima oleh Nabi saw. (padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian) yakni agama Islam dan Alquran (mereka mengusir Rasul dan mengusir kalian) dari Mekah setelah terlebih dahulu mereka mengganggu kalian supaya kalian keluar dari Mekah (karena kalian beriman) disebabkan kalian beriman (kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad) untuk melakukan jihad (pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku) maka janganlah kalian mengambil mereka sebagai teman-teman setia. Jawab syarat ini disimpulkan dari pengertian ayat yang selanjutnya, yaitu: (Kalian memberitahukan secara rahasia kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan.
Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya) yaitu memberitahukan berita-berita Nabi saw. kepada orang-orang musyrik secara rahasia (maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus) artinya menyimpang dari jalan hidayah. Lafal as-sawaa menurut pengertian asalnya berarti tengah-tengah.
««•»»
O you who believe, do not take My enemy and your enemy, namely, the disbelievers of Mecca, for friends. You offer, you communicate to, them, the Prophet’s plan (s) to attack them, which he had confided to you, and had kept secret, at Hunayn, [communicating this to them out of], affection, between you and them. Hātib b. Abī Balta‘a sent them a letter to that effect, on account of his having children and close relatives, idolaters, among them.
The Prophet (s) intercepted it from the person to whom he [Hātib] had given it to deliver, after God apprised him of this. Hātib’s excuse for this [conduct of his] was accepted [by the Prophet]; when verily they have disbelieved in the truth that has come to you, that is, [in] the religion of Islam and the Qur’ān, expelling the Messenger and you, from Mecca, by oppressing you, because you believe in God, your Lord. If you have gone forth to struggle in My way and to seek My pleasure … (the response to the conditional is indicated by what preceded, that is to say, [understand it as being] ‘then do not take them as friends’).
You secretly harbour affection for them, when I know well what you hide and what you proclaim. And whoever among you does that, that is, to secretly communicate the Prophet’s news to them, has verily strayed from the right way, he has missed the path of guidance (originally, al-sawā’ means ‘the middle [way]’).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of13
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=60&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#60:1

[060] Al Mumtahanah 2of2


2of2
13 Verses • revealed at Medinan.
««•»»
»The surah that instituted for lone female Émigrés to Islam the swearing of a scared oath as the test of faith, The Women Tested, establishing publicly that their migration was purely for the sake of God, without worldly motive, so as to vouchsafe to them full protection and rights in the Muslim community. It takes its name from verse 10 concerning “the testing” (imtiḥān) of new female converts to Islam. The surah was revealed between the Treaty of Ḥudaybiyyah and the conquest of Mecca: instructions are given on how to deal with women who leave Mecca and join the Muslims, and the procedure for wives who leave Medina for Mecca (verse 10 ff.). The Muslims are instructed on the appropriate allocation of their loyalties (verse 1 ff.,verse 7 ff. and verse 13) and Abraham is cited for them as an example to learn from (verse 4).«

The surah is also known as Examining Her, She Who Is Tested, That Which Examines, The Examiner, The Test of Faith, The Woman Tried, The Woman to be Examined, Women Tested.
««•»»
•[AYAT 001]•[AYAT 002]•[AYAT 003]•[AYAT 004]•[AYAT 005]•[AYAT 006]•[AYAT 007]•[AYAT 008]•[AYAT 009]•[AYAT 010]•[AYAT 011]•[AYAT 012]•[AYAT 013]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Sumber: Al-Quran (القرآن) — Online Quran Project — Translation and Tafsir
http://al-quran.info/#60


Selasa, 02 Juni 2015

[060] Al Mumtahanah 1of2

1of2
13 Ayat • diturunkan di Madinah.
««•»»
Surah Al-Mumtahanah (bahasa Arab:الممتحنة, "Perempuan Yang Diuji") adalah surah ke-60 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat. Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
««•»»

Pokok-Pokok Isi
  • Hukum-hukum
  • Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam, sedang dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan
  • Hukum perkawinan bagi orang-orang yang pindah agama
  • Kisah-kisah
  • Kisah Nabi Ibrahim a.s. bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang mukmin.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
 [KEMBALI][AYAT-AYAT]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Mumtahanah
Mukaddimah terjemahan Al Qur'an versi Departemen Agama RI